Laki-laki penjual lontong pikulan itu bapakku
Jakarta, 22 Desember 2011 di tengah hujan lebat yang membawa suasana sendu dalam jiwa.
Lama tidak menulis, kusempatkan waktu untuk menulis disamping banyak postingan teman di FB yang menulis di blognya. sebuah kisah nyata. Waktu berlalu seiring hujan deras sepanjang malam. Sesaat kupikul rombong angkut yang berisi dengan barang jualan roti, rokok dan barang eceran lainnya sebelum hujan itu menderas. Dengan sedikit tersapu air hujan baju dan daganganku, aku singgah di sebuah ruko milik orang china. Sudah tutup, lumayan buat bersinggah malam ini. Lumayan bisa menyelamatkan barang dagangan untuk esok hari. Menyusuri malam-malam Surabaya tempo dulu dalam perjuangan mencari penghidupan untuk anak istri di rumah. Langit sebagai atap, dan bumi sebagai lantainya. Mungkin itulah istilah kehidupan yang serba tidak menentu waktu itu. Menjalani hari dengan harapan tak pasti. Kadang dalam waktu sebulan sekali, aku pulang ke rumah menjenguk keluarga. Cukup jauh perjalanan dari Surabaya ke kampung halamanku. Mungkin sekitar 2 jam perjalan atau bahkan lebih untuk zaman waktu susah transport seperti sekarang ini.
Tidak hanya itu saja, sempat pula aku jualan lontong balap disamping jualan roti, rokok secara berkeliling pakai pikulan. Itulah kehidupan nasib orang kecil. Jangankan SMP, SD saja hanya sampai kelas 4. Di usia sekecil itu, aku harus berhenti sekolah dan merantau ke Surabaya untuk bekerja. Dari situlah kehidupan kerja ku geluti hingga sampai berumah tangga seperti ini. Dikaruniahi 2 putri dan seorang putra. Masa kehidupanku yang benar sulit. Seringkali aku tidak bisa makan nasi. Yang ada dulu ada “karak”. Sisa nasi yang dikeringkan itu digodok (dimasak lagi). Itulah kehidupan zaman dulu.
Hingga usia putra ke-2 ku besar, aq masih bekerja sebagai penjual lontong balap dengan pikulan. Kadang pula narik becak. Rumah kecil kayu itu menjadi saksi ketika anak-anakku berlaki menjemputku ketika aku pulang dari Surabaya. Baru menginjak dewasanya putraku, aku bisa berwiraswasta, beternak ayam. Masih lumayan memberi kehidupan yang lebih baik. Meskipun harus tercurah energi yang tidak sedikit. Perlahan demi perlahan, kurintis usaha ternak ayam itu hingga cukup memberikan hasil. Aku bisa membangun rumah tembok, yang meskipun tidak besar, tapi cukup. Aku bisa sekolahkan putriku yang pertama kuliah, terus lanjut ke putraku kuliah. Badai pun sering hilir mudik, seringkali kebutuhan itu terlampau besar dibanding pemasukan. Situasi ekonomi dan politik yg tidak stabil, dan cuaca yang sering berubah menjadikan aku sering menderita rugi. Bahkan pernah hampir semua ternak ku habis terserang penyakit. Mau tidak mau, kututup semua kebutuhan sekolah anak-anakku dengan hutang ke sana kemari.
Sekarang saatnya aku untuk pensiun. Anak-anakku melarang aku untuk bekerja. Mereka sudah lulus dan bekerja.
Kupersembahkan tulisan ini untuk laki-laki yang sangat saya cintai dan kagumi. Dialah bapakku. Sungguh, tiada orang yang paling berjasa dalam dunia ini selain Bapak dan Ibuku. Kutulis cerita ini dengan airmata yang berurai. Semoga Allah memuliakan engkau wahai Bapak-Ibuku.
Menari di atas awan
Senja telah berlalu
Mengusik kalbu dalam sayupnya rindu
Membawa piluh dalam cintamu
Dalam remangnya cahaya,
Kulihat jalan semakin terjal
Masihkah adakah cinta dalam sinarmu..?
Masih kuingat genggaman tanganmu,
Terlepas dalam persimpangan jalan
Malam memisahkan raga,
Menyisakan rindu diantara kita
Aku ingin selalu dan selalu menari di atas awan bersamamu……
(kupersembahkan puisi itu untuk semua sahabatku dulu….aku rindu akan kebersamaan kita)
Penantian panjang perjalanan hidup
Oktober 2009, hari berlalu seperti layaknya biasanya. Nothing special selain hari-hari yang melelahkan di classroom training. Sudah hampir 3 bulan menjalani aktivitas di Ibu kota Jakarta Raya, namun diri ini masih diliputi bimbang yang tiada bertepi. Belum mendapat kepastian yang jelas terkait penempatan pekerjaan. Terkait prospektif ke depan. Maklum, karena kita termasuk trainee yang berbeda dengan yang lain. Ada spesialisasi alokasi buat unit Korporasi perusahaan. Hati selalu berdegup cemas. Belum pernah diri ini menjalani kehidupan lebih dari 1 minggu di luar pulau Jawa. Semua seperti menjadi momok yang menakutkan hidup dalam bayang-bayang hutan belantara. Bekerja di perusahaan sekaligus BUMN terbesar di Indonesia, menjadikan diri harus siap menanggung segala risiko akan berpetualang di seluruh penjuru pelosok daerah.
Oh Rabb semesta alam, sungguh diri ini tiada bermaksud melawan kehendak dan takdir yang Engkau tulis terhadap diri ini. Tapi sebagai manusia biasa, diri ini selalu memohon selalu ketabahan dan keikhlasan manakala diri ini mendapatkan sesuatu yang tidak kami inginkan ya Rabb. Hamba tiada berdaya melawan kehendak-Mu. Doa itu seolah menjadi penghibur hati, kepasrahan total akan takdir dari Allah Jalla Jalalu.

Waktupun terus berlalu, harapan demi harapan, selalu dipanjatkan agar tabir kejelasan masa depan ini semakin terbuka. Masa depan yang menentukan renstra hidup ke depan. Hingga pada suatu waktu, diri ini harus terkulai lemas tidak berdaya setelah menerima tiket penerbangan ke suatu kota di Pulau Kalimantan. Pulau yang sering didengar, namun belum pernah terbesit sedikitpun bagaimana rupanya. Dengan berbekal optimis bahwa badai pasti berlalu, bahwa Allah tahu yang terbaik untuk hamba-Nya, diri ini pun dengan langkah tegap menuju ke Pulau Kalimantan.
Hari pertama menginjakkan kaki di bumi Kalimantan, tidak ada yang istimewa. Sepanjang perjalanan di atas langit, yang terlihat hanyalah bentangan laut yang seolah tiada bertepi dan lebatnya hutan yang begitu luasnya. Hanya kesepian yang menggelayuti diri ini. Rasanya ingin berteriak sekeras-kerasnya, untuk memecahkan kesunyian yang ada. Meski hidup layaknya orang yang berkecukupan, namun bayangan ayah dan bunda masih selalu membayangi di kelopak mata ini.
Jika malam datang menghampiri, diri ini bertemankan sepi. Dinding-dinding apartemen menjadi saksi akan kebisuan ini. Tapi badai pasti berlalu, perjuangan tidak boleh berhenti di sini. Semua impian besar ini harus terwujud. Semua tidak boleh buyar hanya kalah oleh perasaan diri.


Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Tak terasa sudah 8 bulan menjalani hidup di Kota Bontang. Kota yang mungkin kecil tapi teratur. Ada kerinduan di setiap tarikan nafas ini manakala melihat burung-burung hinggap di pepohonan sepanjang jalan yang ada. Fenomena yang tiada pernah ditemui di kota-kota besar di Pulau Jawa.
Sekarang, hampir tiba juga waktu penentuan itu. Penempatan pekerjaan yang kadang menjadi momok menakutkan bagi orang-orang yang punya ekspekstasi akan orientasi dimana ia ditempatkan. Tapi sungguh aneh, jika dulu hanya berfikir bagaimana menghindar dari penempatan di kota ini, maka sekarang berharap tidak keluar dari kota yang mulai kucintai ini. Ya Rabb,, inilah kuasa-Mu. Engkau-lah yang menghimpun dan menumbuhkan semua rasa cinta ini. Kami tidak tahu apa yang Engkau rencanakan terhadap kami. Kami hanya bisa berkeluh kesah atas keadaan yang ada.

kutuliskan sebuah puisi untuk Kota Bontang yang mulai kucinta dan akan tetap kucinta….
Daun gugur dimusim semi
Meninggalkan kelopak bunga dalam kesendirian
Semilir angin yang bertiup sepoi
Menambah gelayut dalam diri ini
Ada cinta sedang bersemi
Menghiasi indahnya cakrawala yang sedang merona
Tersibak sudah tabir kekecewaan
Hilang ditelan rasa cinta yang mendalam
Ada apakah dengan cinta
Ada apa dengan nafsu dunia
Semua hanya tipuan dan fatamorgana
Padahal, kutemukan cinta dalam keikhlasan
Ada damai dalam kesabaran
Karena semua adalah pilihan
Dan aku akan kembali dalam purnama mendatang
Membawa segudang rindu dan cinta
Hingga waktu yang memisahkan kita
Dan atas kehendak Yang Maha Kuasa
Kutulis dalam indahnya sore di Bontang dan menyambut saat indah itu…..
(Bontang, 16 Juni 2010)
Lupakan Cinta Yang Tidak Sampai di Pelaminan
saatnya telah tiba,,
ketika mentari menceraikan dunia dari terangnya cahaya di ufuk senja
di kala rona merah menemani sang surya tenggelam dalam peraduannya
saat itulah,
akhir sejarah cinta kita
saatnya telah tiba,,
ketika rembulan meninggalkan kepurnamaannya dalam syahdunya malam
di kala kelamnya malam menemani jiwa yang gelisah dalam ketersiksaannya
saat itulah,
akhir sejarah kerinduan kita
saatnya telah tiba,,
ketika diri mengharap keremajaan jiwa dalam kejenuhannya
di kala cinta memenuhi ruang jiwa dalam puncak kulminasinya
saat itulah,
akhir sejarah kisah kita
selamat tinggal jiwa yang lama
Semua memang tidak semudah yang dibayangkan. Untaian kata-kata yang menjadi saran dan masukan hanyalah seperti pepesan kosong belaka. Masuk sesaat, lalu semua akan terhempas kembali dengan kenangan-kenangan indah masa lalu. Kenangan yang membangkitkan gejala akut kerinduan untuk mencapai kerinduan yang dia tidak dapat menjangkaunya. Seolah-olah, terjadi rejeksi diantara asupan internalisasi organ jiwa yang baru. Begitulah sakitnya patah hati. Ketika cinta bertepuk pada sisi angin, ketika tepukan tangan tidak menghasilkan suara cinta dari tangan yang lain, semua seolah-olah menjadi hampa. Dunia seolah-olah mau runtuh. Mungkin berlebihan, tapi kadang itulah kenyataannya. Ada yang tersadar kembali dalam alam realita. Ada yang semakin masuk dalam buaian dahaga kerinduan dan obsesi yang tiada terpuaskan. Disinilah rumus bahwa “cinta tidak harus memiliki tidak berlaku”. Karena bagi sang pecinta, cinta adalah ungkapan kata, belaian sentuhan, tatapan pandangan, dan temu jiwa yang terangkum dalam pertemuan fisik
Inilah cinta, inilah kerinduan diantara jiwa yang bergelora diantara 2 insan yang sedang dilanda gelora orgasme emosional. Ketika cinta tiada berbalas, maka perpisahan di alam dunia seolah menjadi siksaan jiwa baginya. Jika mata tidak saling memandang maka hati tersiksa rindu. Inilah ruang dimensi cinta jiwa itu. Cinta yang terlahir karena bentuk atau rupa, yang sedikit diwarnai dengan indahnya jiwa. Tapi tetap bagaimanapun bentuk dan rupa adalah manifestasi dan pengejahwantahan dari cinta itu sendiri.
Para pecinta yang gagal dan merana ketika tidak dapat membingkai dimensi ruang cinta yang baru dan lebih memilih larut dalam hausnya kerinduan dan kenangannya pada orang yang dicintainya tetapi kandas adalah mereka yang lebih memperturutkan perasaan mereka daripada cinta penghambaan kepada Tuhannya. Mereka menjadi budak perasaan. Memang berat, tapi disinilah letak tantangan itu. Ketika tauhid menjadi pertaruhan antara dimensi pilihan yang ada. Oleh karena itu, lupakanlah cinta yang tidak sampai di pelaminan. Setiap hamba yang dipenuhi cinta kepada Rabbnya yakin bahwa ada cinta lain yang sedang menunggu untuk di bingkai. Ruang cinta jiwa yang penuh dengan aroma keberkahan alam langit.












Komentar Terakhir....